8 MIN READ
Digital
Entertainment
Yuka Nabila Shauma

“Kalau dia sayang, pasti bikin video sweet kayak di TikTok.”
“Kalau hubungannya sehat, pasti sering upload foto bareng.”
“Kalau belum diajak healing tiap bulan, berarti belum jadi prioritas.”
Kalimat-kalimat seperti itu sekarang makin sering muncul di media sosial. Sedikit demi sedikit, internet seperti membentuk “standar” baru tentang hubungan yang ideal. Dari video couple yang selalu romantis, surprise mahal, sampai pasangan yang terlihat nggak pernah bertengkar. Semuanya terlihat manis di layar.
Tapi pertanyaannya: Apakah hubungan yang sehat memang harus terlihat seperti itu?

Fenomena relationship goals sebenarnya bukan hal baru. Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan pasangan yang dianggap ideal oleh orang lain. Biasanya karena terlihat harmonis, romantis, dan estetik di media sosial. Namun tanpa sadar, konten-konten seperti ini juga bisa memengaruhi cara seseorang memandang cinta dan hubungan.
Media sosial membuat kita melihat “highlight” kehidupan orang lain hampir setiap hari. Kita melihat pasangan yang selalu quality time, saling kasih hadiah, bikin konten lucu bareng, atau terlihat sangat memahami satu sama lain. Lama-lama, standar hubungan jadi ikut terbentuk dari apa yang sering kita lihat di timeline.
Masalahnya, internet jarang memperlihatkan sisi hubungan yang sebenarnya. Jarang ada yang upload momen salah paham, capek menghadapi pasangan, atau fase hubungan yang terasa hambar. Yang muncul biasanya versi terbaik yang sudah dipilih dan dikurasi. Karena itu, hubungan orang lain terlihat selalu sempurna.
Akhirnya banyak orang mulai membandingkan hubungan mereka sendiri

Padahal pasangan sendiri mungkin sebenarnya perhatian. Selalu ada saat dibutuhkan, jadi tempat cerita, atau berusaha hadir di tengah kesibukan. Tapi karena tidak “seinstagramable” pasangan lain, hubungan itu terasa kurang. Inilah yang sering memunculkan ekspektasi dalam hubungan jadi makin tinggi dan kadang kurang realistis.
Relationship goals sering diukur dari kemesraan yang ditampilkan di media sosial, padahal hubungan yang terlihat sempurna belum tentu benar-benar sempurna. Banyak ketidaksempurnaan yang tertutup oleh foto dan video yang diunggah.
Teori hubungan dari media sosial kadang justru berubah jadi “racun” ketika seseorang mulai memaksakan hubungan nyata mengikuti standar internet. Hubungan jadi penuh tuntutan, validasi, dan perbandingan terus-menerus.
Padahal hubungan sehat nggak selalu terlihat mencolok

Ada pasangan yang jarang upload, tapi komunikasinya baik.
Ada yang nggak sering kasih hadiah mahal, tapi selalu hadir saat pasangannya butuh. Ada yang hubungannya sederhana, tapi terasa aman dan tenang. Justru hal-hal kecil yang lebih penting dalam hubungan jangka panjang.
Fenomena ini juga makin terasa karena algoritma media sosial suka menampilkan konten yang emosional dan relatable. Semakin sering seseorang menonton video tentang “pasangan ideal”, semakin sering juga konten serupa muncul. Lama-lama, standar cinta jadi ikut dibentuk oleh internet, bukan oleh kebutuhan emosional diri sendiri.
Di sisi lain, relationship goals sebenarnya nggak selalu buruk. Banyak konten hubungan yang bisa jadi inspirasi tentang komunikasi sehat, effort, atau cara menghargai pasangan. Yang jadi masalah adalah ketika semua itu berubah menjadi tekanan. Karena pada akhirnya, hubungan bukan kompetisi siapa yang paling romantis di media sosial.
Cinta nggak selalu harus terlihat mewah supaya valid. Kadang hubungan yang paling sehat justru yang nggak banyak dipamerkan. Yang tetap bertahan meski sedang capek. Yang bisa saling mendengarkan tanpa harus direkam kamera. Yang terasa nyaman, bukan sekadar terlihat sempurna.
Mungkin sekarang yang perlu diingat bukan “hubunganku sudah seperti relationship goals belum?”, tapi “hubunganku bikin aku merasa aman dan dihargai nggak?” Karena cinta yang sehat belum tentu yang bikin semua orang iri!
Yuk, share kisah cintamu!^^
Quick Links
Contact Us
Apapun industrimu, di sini brand & influencer bisa ketemu, kolaborasi lebih gampang, dan bikin campaign yang jadi bagian dari culture.
Subcsribe Newsletter
Terms & Conditions
Privacy Policy





