8 MIN READ
Digital

Yuka Nabila Shauma

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba overthinking di tengah malam, mempertanyakan arah hidup sendiri?
Di satu sisi kamu merasa harus mulai “jadi sukses”, tapi di sisi lain kamu belum benar-benar tahu mau ke mana. Kalau kamu pernah ada di posisi itu, kamu nggak sendirian. Banyak orang di usia 20–30-an mengalami hal yang sama, yang dikenal sebagai quarter life crisis.
Quarter Life Crisis? Apa tuh?

Quarter life crisis adalah fase krisis emosional yang ditandai dengan perasaan bingung, cemas, takut, dan ragu terhadap masa depan. Kondisi ini muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan berbagai aspek dalam hidupnya, seperti karier, hubungan, hingga tujuan hidup. Fase ini bukan sekadar “kegalauan biasa”, melainkan bagian dari proses pendewasaan ketika seseorang mulai menghadapi tekanan hidup dan membentuk identitas dirinya.
Fase ini terasa berat karena biasanya terjadi di masa transisi besar dalam hidup. Dari yang sebelumnya terbiasa diarahkan, oleh sekolah, orang tua, atau lingkungan, tiba-tiba harus menentukan pilihan sendiri. Di saat yang sama, ekspektasi juga datang dari berbagai arah. Keluarga mulai bertanya soal pekerjaan atau pernikahan, lingkungan sosial menunjukkan standar kesuksesan, dan media sosial menampilkan kehidupan orang lain yang tampak lebih “maju”.
Tekanan inilah yang sering memicu rasa tidak cukup, ketakutan akan kegagalan, hingga krisis kepercayaan diri.

Akibat Quarter Life Crisis :
Akibatnya, banyak orang mulai mengalami berbagai tanda quarter life crisis, seperti overthinking tentang masa depan, merasa tidak yakin dengan keputusan yang diambil, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Tidak sedikit juga yang merasa tertinggal atau kehilangan arah, seolah semua pilihan yang ada terasa membingungkan. Perasaan ini bisa datang perlahan, tapi dampaknya cukup besar jika tidak disadari.
Namun, penting untuk dipahami bahwa quarter life crisis bukanlah tanda kegagalan. Justru, fase ini menunjukkan bahwa seseorang sedang berada dalam proses mengenal dirinya lebih dalam. Tekanan yang muncul di fase ini merupakan bagian dari pembentukan kedewasaan dan identitas diri. Artinya, rasa tidak nyaman yang dirasakan sebenarnya adalah bagian dari proses tumbuh!
Sering Membandingkan Diri Sendiri?

Salah satu hal yang sering memperparah kondisi ini adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang merasa tertinggal karena melihat pencapaian orang lain di media sosial, padahal yang terlihat hanyalah hasil akhirnya, bukan proses panjang di baliknya. Setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing, sehingga membandingkan diri hanya akan memperbesar rasa cemas yang sebenarnya tidak perlu.
Terus, Kita Harus Apa?
Untuk menghadapi quarter life crisis, tidak ada cara instan yang bisa langsung menyelesaikan semuanya. Namun, ada beberapa langkah yang bisa membantu, seperti mulai mengenali diri sendiri, apa yang disukai, apa yang penting, dan apa yang ingin dicapai. Selain itu, penting juga untuk menerima bahwa tidak semua hal harus jelas sekarang. Fokus pada tujuan kecil dan realistis, serta mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional, juga bisa membantu mengurangi tekanan yang dirasakan.
Pada Akhirnya, Quarter Life Crisis Adalah Fase yang Wajar Dan Manusiawi
Dalam kehidupan ini, bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai sesuatu, tetapi tentang bagaimana seseorang belajar memahami dirinya sendiri di tengah ketidakpastian. Jadi, jika sekarang kamu merasa bingung, lelah, atau kehilangan arah, itu bukan berarti kamu gagal. Bisa jadi, kamu sedang berada di titik penting dalam proses tumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat. Yuk, hadapi quarter life crisis ini bersama!
Quick Links
Contact Us
Apapun industrimu, di sini brand & influencer bisa ketemu, kolaborasi lebih gampang, dan bikin campaign yang jadi bagian dari culture.
Subcsribe Newsletter
Terms & Conditions
Privacy Policy





