8 MIN READ
Inspiratif
Digital
Yuka Nabila Shauma
Buat Chindy Aidi, jalan-jalan bukan cuma soal pindah lokasi.
Content creator asal Pontianak, Kalimantan Barat ini sekarang punya 500-an ribu followers dan mencatat lebih dari 32,7 juta likes. Tapi di balik angka itu, ada cerita panjang tentang proses, jatuh-bangun, dan satu keputusan penting: berani jalan sendiri.
Merantau, Kerja, Resign — Lalu Berangkat
Tahun 2017, Chindy memutuskan merantau ke Jakarta. Hidupnya waktu itu nggak jauh dari rutinitas kebanyakan anak rantau: kuliah, kerja, dan sibuk ke sana kemari. Ia sempat terjun ke dunia konten sejak 2018 lewat kanal bernama Ziarah ID bersama tim. Sayangnya, kesibukan masing-masing bikin perjalanan itu harus berhenti di tengah jalan.
Titik baliknya datang di tahun 2021. Chindy memilih resign dari pekerjaannya di Semarang, tepat saat pandemi COVID-19 masih terasa. Di momen itulah, ia nekat melakukan solo travelling pertamanya ke Banyuwangi—sendirian, pakai masker, dan penuh rasa deg-degan.
“Ternyata nggak seseram itu jalan sendiri,” katanya. Dan dari situlah semuanya berubah.

Jelajahkuy Lahir dari Keberanian Kecil
Awalnya, Chindy masih mencoba bikin konten bareng tim. Tapi lagi-lagi, kesibukan jadi tantangan. Sampai akhirnya ia sadar: kalau terus menunggu, nggak akan ke mana-mana.
Akhir 2021, ia mengganti nama akunnya menjadi Jelajahkuy dan mulai menjelajah seorang diri. Banyuwangi jadi saksi pertama, disusul keliling Jawa Tengah dan berbagai daerah lainnya.
Pelan-pelan, keberanian tumbuh. Rasa takut berubah jadi rasa ingin tahu. Dan cerita demi cerita mulai terkumpul.
Menjelajah Itu Bukan Cuma Jalan, Tapi Bertumbuh
Konten Jelajahkuy dikenal dekat dengan tempat-tempat yang jarang didatangi orang. Kadang sepi, kadang terasa misterius, tapi selalu punya cerita. Meski begitu, Chindy menegaskan bahwa dirinya nggak cuma bicara soal horor.
“Di dalamnya ada sejarah, budaya, dan pengalaman manusia,” jelasnya.
Menurutnya, menjelajah bukan cuma soal destinasi, tapi juga soal proses mengenal diri. Belajar berkomunikasi dengan orang baru, menghadapi rasa takut, sampai memahami bahwa dunia jauh lebih luas dari rutinitas sehari-hari.

Konsisten Itu Nggak Selalu Mudah, Tapi Bisa Diusahakan
Jenuh? Capek? Nggak termotivasi? Semua itu pernah dialami Chindy. Tapi alih-alih berhenti, ia memilih cara sederhana: melihat kembali perjalanan yang sudah dilewati.
“Aku suka scroll video lama, evaluasi. Dari situ aku ingat, aku sudah sejauh ini,” katanya.
Prinsip hidupnya pun sederhana tapi kuat: percaya pada diri sendiri dan jangan lupa berdoa. Menurut Chindy, kalau seseorang tidak percaya pada dirinya, maka akan mudah goyah oleh omongan dan perbandingan.
Tetap Jadi Diri Sendiri di Tengah Ramainya Media Sosial
Di era media sosial yang serba cepat, membandingkan diri dengan kreator lain terasa sangat mudah. Tapi Chindy memilih jalannya sendiri. Ia percaya, ikut-ikutan tren tanpa arah justru bikin kehilangan identitas.
“Kalau semua diikuti, berarti kita belum kenal diri sendiri,” ujarnya.
Hal yang sama ia sampaikan untuk anak muda yang ingin jadi kreator. Kesalahan paling sering, menurutnya, adalah cepat puas dan cepat menyerah. Padahal, baik konten, bisnis, maupun mimpi besar—semuanya butuh waktu dan proses.
Jelajah Bukan Soal Mahal, Tapi Soal Berani
Lewat Jelajahkuy, Chindy ingin menyampaikan satu pesan penting: menjelajah itu nggak harus mahal. Mau menginap di kos sederhana atau sekadar jalan ke tempat dekat—semua sah, semua tetap berharga.
“Selagi masih muda, perbanyak cari pengalaman,” ujarnya.
Dan untuk kamu yang masih ragu memulai mimpi, Chindy punya satu kalimat sederhana tapi ngena:
“Action. Jangan tunggu nanti, karena waktu terus berjalan.”
Lewat langkah kecil yang konsisten, Chindy Aidi membuktikan bahwa perjalanan bisa jadi ruang belajar paling jujur—tentang dunia, dan tentang diri sendiri.
Quick Links
Contact Us
Follow Us
Apapun industrimu, di sini brand & influencer bisa ketemu, kolaborasi lebih gampang, dan bikin campaign yang jadi bagian dari culture.
Subcsribe Newsletter
Terms & Conditions
Privacy Policy







