8 MIN READ
Healthy
Yuka Nabila Shauma
Di era digital sekarang, media sosial sudah jadi “teman harian” banyak orang. TikTok, Instagram Reels, sampai YouTube Shorts hadir dengan video pendek yang cepat, ringan, dan membuat candu! Awalnya niat scroll sebentar buat hiburan, tapi tahu-tahu waktu sudah habis tanpa sadar!
Di balik keseruannya, muncul satu istilah yang belakangan sering dibahas: brain rot. Meski terdengar asing, brain rot sebenarnya merujuk pada kondisi serius yang berkaitan dengan kesehatan mental dan fungsi kognitif (Kemenkes).
Mari kita kulik apa itu brain rot, gejalanya, dampaknya, serta cara mencegahnya!
Apa Itu Brain Rot?
Brain rot adalah istilah untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten media sosial berlebihan, terutama video pendek. Konten jenis ini dirancang untuk memberi stimulasi cepat.
Brain rot menjadi fenomena media sosial yang berpotensi mengancam kesehatan mental karena membuat otak terus-menerus mencari hiburan instan. Tempo.co juga menyoroti bahwa konsumsi meme atau video anomali yang absurd dapat membentuk pola pikir yang lebih dangkal dan impulsif.
Ketika otak terbiasa dengan stimulus singkat dan cepat, aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama, seperti membaca, belajar, atau berpikir kritis dapat berubah jadi terasa berat dan melelahkan.

Gejala-Gejala Brain Rot
Brain rot tidak muncul secara tiba-tiba. Gejalanya berkembang perlahan dan sering kali tidak disadari. Beberapa tanda yang perlu kita waspadai antara lain:
Sulit fokus dan mudah terdistraksi
Terlalu sering menonton video pendek membuat otak terbiasa dengan sesuatu yang singkat. Detik.com menyebutkan bahwa penurunan fokus adalah salah satu tanda utama brain rot.
Scroll terus meski tahu harus berhenti
Kebiasaan scrolling tanpa sadar bisa berkembang menjadi kecanduan. Detik.com membandingkan efeknya dengan mekanisme kecanduan lain yang dipicu dopamine instan.
Produktivitas menurun
Waktu belajar atau bekerja tergeser oleh konten hiburan yang sebenarnya tidak memberikan nilai jangka panjang.
Pola tidur terganggu
Paparan layar berlebihan, terutama sebelum tidur, bisa menyebabkan sulit tidur dan kelelahan. Gangguan tidur jadi salah satu gejala brain rot.
Perubahan emosi dan sosial
Rasa cemas, cepat bosan, hingga perasaan kosong setelah scroll panjang juga termasuk gejala yang sering muncul.
Karena terasa “normal”, banyak orang baru menyadari dampaknya ketika efeknya sudah cukup mengganggu.

Bahaya Brain Rot Jika Dibiarkan
Brain rot bukan sekadar soal malas atau kurang disiplin. Jika dibiarkan, dampaknya bisa berlangsung jangka panjang. Konsumsi short video berlebihan dapat mengganggu fungsi kognitif dan menurunkan kemampuan berpikir kritis. Serem juga ya!
Risiko lain juga menyebabkan individu menjadi lebih mudah terpengaruh informasi tanpa menyaringnya secara kritis. Dalam jangka panjang, brain rot dapat memengaruhi kemampuan belajar, kreativitas, dan interaksi sosial.
Dari sisi kesehatan mental, paparan konten instan yang terus-menerus dapat memperburuk kecemasan, stres, dan rasa tidak puas terhadap kehidupan nyata.
Cara Mencegah Brain Rot
Kabar baiknya, brain rot bisa dicegah dengan langkah-langkah berikut:
Batasi waktu layar
Manfaatkan fitur pengatur waktu di ponsel. Beberapa sumber menyarankan konsumsi video pendek tidak lebih dari 30–60 menit per hari.
Seimbangkan jenis konten
Tidak harus berhenti total, tapi imbangi dengan konten edukatif, bacaan panjang, atau aktivitas yang melatih fokus.
Aktif secara offline
Olahraga, jalan santai, atau sekadar ngobrol langsung bisa membantu otak “istirahat” dari stimulasi digital.
Kenali pola kecanduan diri sendiri
Kurangi notifikasi dan sadari kapan scroll berubah dari hiburan jadi kebiasaan yang tidak terkendali.
Kesadaran menjadi kunci utama agar media sosial tetap memberi manfaat, bukan sebaliknya.

Brain rot bukan mitos atau sekadar istilah lucu di internet. Di era konten serba cepat, scroll sebentar bisa perlahan mengurangi fokus, produktivitas, dan kesehatan mental. Mengenali gejalanya sejak dini dan menjaga keseimbangan digital adalah langkah penting agar media sosial tetap menjadi alat hiburan, bukan kebiasaan!
Karena pada akhirnya, yang perlu dijaga bukan cuma baterai ponsel, tapi juga kesehatan otak!
Referensi :
RSMM Bogor. (n.d.). Brain Rot: Fenomena Media Sosial yang Mengancam Kesehatan Mental. Diakses dari https://rsmmbogor.com/brain-rot-fenomena-media-sosial-yang-mengancam-kesehatan-mental.
Detik.com. (2024). Tanda-Tanda Brain Rot Akibat Terlalu Sering Nonton Video Pendek. Diakses dari https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8245173/tanda-tanda-brain-rot-akibat-terlalu-sering-nonton-video-pendek?page=3.
Detik.com. (2024). Ini Bahaya Keseringan Nonton Short Video di Medsos. Diakses dari https://www.detik.com/sumut/berita/d-8256120/ini-bahaya-keseringan-nonton-short-video-di-medsos.
FBS Unesa. (n.d.). Hati-Hati Otak Membusuk (Brain Rot) Karena Video Pendek, Yuk Kenali Gejalanya. Diakses dari https://s1filmanimasi.fbs.unesa.ac.id/post/hati-hati-otak-membusuk-brain-rot-karena-video-pendek-yuk-kenali-gejalanya.
Tempo.co. (2024). Kecanduan Konten Medsos, Meme Anomali Absurd, dan Gejala Brain Rot. Diakses dari https://www.tempo.co/digital/kecanduan-konten-medsos-meme-anomali-absurd-dan-gejala-brain-rot-2051597.
Quick Links
Contact Us
Follow Us
Apapun industrimu, di sini brand & influencer bisa ketemu, kolaborasi lebih gampang, dan bikin campaign yang jadi bagian dari culture.
Subcsribe Newsletter
Terms & Conditions
Privacy Policy







